Salah satu kenyataan yang saya hadapi adalah menjadi satu-satunya guru laki-laki di sekolah. Hampir semua rekan sejawat saya adalah perempuan, termasuk kepala sekolah. Sementara itu, laki-laki lainnya yang ada di lingkungan sekolah lebih banyak berperan sebagai wali asuh dan wali asrama, bukan sebagai guru. Bahkan, mereka semua tinggal satu asrama dengan saya. Situasi ini membuat saya merasa “sendiri” dalam profesi, sekaligus berbeda dalam peran.
Kadang, hati kecil saya bertanya: “Mengapa saya yang harus berada di posisi ini?” Dunia terasa penuh ketimpangan. Semua orang baik, semua ramah, tetapi tetap ada ruang kosong yang tidak bisa terisi hanya dengan keramahan. Perasaan berbeda itu hadir, menimbulkan kegelisahan yang sesekali membuat saya overthinking.
Namun perlahan aku belajar melihat dari sisi lain. Bukankah hidup memang selalu penuh dengan perbedaan? Allah menciptakan manusia dengan jalan dan ujian masing-masing. Ada yang diberi kawan seiring, ada pula yang ditempa dengan kesendirian.
Dalam langkah pengabdianku di Sekolah Rakyat SRMP 23 Makassar, aku merasakan ujian itu. Ada rasa canggung, ada pula ragu, seolah beban ini terlalu berat dipikul sendiri. Tetapi di baliknya, justru aku menemukan makna yang lebih dalam tentang arti mengabdi.
Sebab setiap posisi yang Allah titipkan pada hamba-Nya pasti mengandung hikmah. Allah pun mengingatkan dalam firman-Nya:
“Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sampai mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri.”(QS. Ar-Ra’d: 11)
Ayat ini mengingatkan saya bahwa perubahan dan kekuatan harus dimulai dari diri sendiri. Menjadi satu-satunya guru laki-laki bukan kelemahan, melainkan peluang untuk menguatkan diri, berkontribusi lebih, dan menjaga keseimbangan.
Kehadiran wali asuh dan wali asrama di sekitar saya pun saya anggap sebagai berkah. Meski berbeda profesi, mereka tetap saudara seperjalanan. Dari mereka, saya belajar tentang kedisiplinan, kepedulian, dan keikhlasan dalam mengasuh. Dari para guru perempuan, saya belajar tentang kelembutan, ketelitian, dan ketekunan. Semua ini menjadi potongan puzzle yang saling melengkapi, dan saya ada di antaranya—sebagai jembatan, bukan orang asing.
Rasulullah ﷺ bersabda:
“Setiap kalian adalah pemimpin, dan setiap kalian akan dimintai pertanggungjawaban atas yang dipimpinnya.”(HR. Bukhari dan Muslim)
Hadits ini menyadarkan saya bahwa posisi yang saya jalani sekarang adalah amanah. Sekecil apa pun peran itu, tetap akan dimintai pertanggungjawaban di hadapan Allah. Maka yang terpenting bukanlah jumlah teman seprofesi atau kesamaan dengan orang lain, melainkan kesungguhan dalam menjaga amanah tersebut.
Refleksi ini meneguhkan hati saya: bahwa rasa sendiri bukan untuk dikeluhkan, melainkan untuk dimaknai. Bahwa ketimpangan yang terlihat bukan kelemahan, melainkan kesempatan untuk menjadi seimbang. Dan bahwa Allah tidak pernah salah menempatkan hamba-Nya. Tugas saya hanya satu: terus ikhlas mengabdi, menebar ilmu, dan menjaga amanah dengan sepenuh hati.
Akhirnya, saya ingin mengajak siapa pun yang membaca catatan ini untuk merenungkan pengalaman masing-masing. Mungkin ada yang merasa berbeda di lingkungannya, mungkin ada yang merasa sendiri dalam perjuangannya, atau mungkin ada yang merasa kecil di antara banyak orang lain. Ingatlah, setiap posisi memiliki hikmah dan setiap perbedaan punya makna. Allah selalu tahu di mana sebaiknya kita ditempatkan, karena di sanalah kita bisa belajar sesuatu yang tidak bisa kita dapatkan di tempat lain.
Semoga kita semua dapat menjalani amanah kita dengan ikhlas, meski kadang terasa berat, dan semoga setiap langkah pengabdian kita menjadi jalan menuju ridha Allah.

Komentar
Posting Komentar