Menjaga Api Literasi di Balik Layar WhatsApp

Literasi adalah lentera kecil yang kita nyalakan bersama untuk membangun peradaban, meski dalam senyap

Apakah mungkin menjaga semangat literasi hanya dengan layar kecil WhatsApp? Bagi saya, menjadi sekretaris cabang, Forum Lingkar Pena (FLP) Cabang Gowa adalah bukti nyata bahwa itu mungkin. Tugas ini bukan sekadar jabatan administratif, tetapi misi untuk terus menjaga api literasi menyala, meskipun hanya bermodalkan layar kecil WhatsApp. Tugas ini tidak selalu mudah, penuh dinamika, dan saya menyaksikan bagaimana literasi tidak hanya soal menulis atau membaca, tetapi juga soal menyambungkan manusia dengan ide, mimpi, dan tujuan bersama.

Sebagai penggerak literasi, aktivitas digital menjadi tulang punggung perjuangan kami. Mulai dari menyusun rencana perekrutan ToWR III (Training of Writing and Reading), SEKMEN (Sekolah Menulis), hingga mendiskusikan Pengukuhan ToWR III FLP Cabang Gowa yang direncanakan untuk dirangkaikan juga dengan Pengukuhan ToWR X FLP Ranting UIN. Lalu belakangan diputuskan untuk sekaligus bersama MUSRAN(Musyawarah Ranting) XI FLP Ranting UIN 2024, karena pergantian kepengurusan semakin mendesak yang semuanya harus diorganisasi melalui grup-grup obrolan digital. Diskusi panjang tentang kaderisasi, tantangan mengaktifkan ranting, hingga memastikan bahwa setiap anggota tetap terhubung dengan visi literasi FLP, semuanya berlangsung di balik notifikasi grup WhatsApp. 

Perjalanan kepengurusan ini sering kali muncul masukan dari para senior yang mengingatkan kami untuk tetap fokus dan aktif. Salah satu contoh yang berkesan adalah saat seorang senior FLP Ranting UIN bernama Mus berkomentar, "Pantas FLP UIN ndak beres, cabangnya juga bermasalah…" Sebuah kritik yang tajam, tetapi justru menjadi pemantik semangat bagi kami untuk memperbaiki kekurangan. Percakapan seperti ini bukan hanya memberi tantangan, tetapi juga mengajarkan kami untuk mendengar dan merespons dengan bijak.

Interaksi antarpengurus juga menjadi akar yang memperkuat dinamika kerja kami. Dalam salah satu diskusi di grup WhatsApp bersama Kak Nurbiah Permatasari Nurdin atau Kak Biah, salah satu pengurus yang berdomisili di Jerman, kami mendiskusikan berbagai hal, salah satunya tantangan menjadi penulis dengan gaya khas Bugis-Makassar. Kebiasaan berbahasa masyarakat Sulsel, seperti mencampur "ku" dan "saya" dalam satu frasa, kerap dianggap tidak konsisten oleh pembaca di luar daerah.

"Wkwk saya pernah dikritik seperti itu juga, tapi yang kritik media online di Jawa," tulis Kak Biah sambil menambahkan emotikon tertawa"Mereka tidak tahu kalau itu tipikal orang Sulsel karena dipengaruhi logat memang, cuma bilang tidak konsisten aja. Contohnya, 'Punyaku saya itu' borosnya." Sambungnya, menggambarkan bagaimana logat Sulsel yang kental tak hanya membentuk lisan, tetapi juga mengalir dalam tulisan. 

Kutipan tersebut mempertegas bahwa teknologi telah menjembatani keterpisahan geografis dan tetap menjaga kehangatan visi bersama. Bahkan dalam sebuah obrolan santai, Kak Aji Sukman, Ketua FLP Cabang Gowa yang berdomisili di Jeneponto dan baru saja menerbitkan novelnya "Harusnya Kita Baik-Baik Saja" saling membalas komentar bersama admin media sosial FLP Gowa. "Mari kita bedah bukunya bersama, Kak" tulis admin FLP Gowa menunjukkan dukungan terhadap produktivitas sesama anggota. "@flpgowa tunggu selesai cetak ya." balas Kak Aji. Percakapan ini menanamkan semangat untuk terus berkarya di tengah kesibukan.

Namun literasi tidak hanya berhenti di layar, WhatsApp bukan satu-satunya medan perjuangan. Media sosial lain seperti Instagram, Facebook, dan YouTube juga menjadi sarana untuk menjaga eksistensi FLP Cabang Gowa. Buku antologi bertajuk "Meminta Maaf pada Indonesia", yang juga berawal dari percakapan di WhatsApp, kemudian didiskusikan dalam gathering sederhana di kedai kopi Diminati Makassar. Gathering yang digelar beberapa kali di kawasan Pettarani Makassar tersebut, dan juga Sekolah Menulis (SEKMEN) pun menjadi ruang untuk berbincang tentang kepenulisan, mempererat ikatan, dan menghidupkan kembali semangat berkarya. 

Berbicara tentang kegiatan, FLP Cabang Gowa mungkin terlihat "tenang" dari luar, namun di balik layar ada banyak hal yang berjalan. Kami mengadakan ToWR III di perkemahan Bissoloro', Kab. Gowa; SEKMEN yang biasanya berlangsung di tempat-tempat inspiratif seperti Ikigai Coffee, Paopao Gowa bersama Kak Murni Aisyah, Safni Yunia, dan Kak Budiman, hingga Kampus II UIN Alauddin bersama Kak Muhammad Galang Pratama. Bahkan, sesi daring bersama Kak Mira Pasolong, seorang pegiat literasi Sulbar, memperluas jangkauan kami melintasi batas wilayah.

Tidak hanya itu, FLP Gowa juga hadir di kegiatan-kegiatan bergengsi. Pada awal tahun 2023, kami terlibat dalam Festival Jaga Bahasa oleh Balai Bahasa Sulawesi Selatan di MaxOne Hotel Makassar, diwakili oleh Kak Nurhalisa, salah satu senior kami. Di tahun berikutnya, langkah kami berlanjut ke Pemberdayaan Komunitas Penggerak Literasi 2024 di Hotel Almadera Makassar, di mana saya berkesempatan menjadi perwakilan. Semua ini menjadi bukti bahwa FLP Gowa tidak pernah diam. Kami bergerak seperti roda, membawa visi literasi melangkah ke depan.

Yang membuat saya kagum adalah keragaman anggota kami, beberapa anggota tinggal di luar Gowa hingga di mancanegara, seperti Jerman. Walaupun berjauhan, teknologi membuat kami tetap terhubung dengan visi literasi yang sama. Kami mungkin terlihat soliter, tidak seperti lebah yang hidup berkoloni, namun sebenarnya kami saling terIlhubung dan tetap solid membentuk konstelasi yang indah dalam perjalanan kepengurusan ini.

Momen ini mengingatkan saya pada perjalanan panjang sejarah Indonesia ketika para pemuda saat Sumpah Pemuda 1928 berkumpul meskipun berasal dari latar budaya, bahasa, dan daerah yang berbeda. Mereka bersatu demi sebuah cita-cita besar: membangun bangsa yang bersatu dan merdeka. Sama seperti mereka, kami di FLP Cabang Gowa juga terhubung oleh visi literasi, melampaui jarak geografis. Sejarah ini mengajarkan bahwa kebersamaan bisa melampaui sekat-sekat yang tampak.

Filosofi lokal Bugis-Makassar, "Sipakatau, sipakalebbi, sipakainge", menjadi landasan kami yang mengajarkan kita untuk saling memanusiakan, saling menghormati, dan saling mengingatkan. Prinsip ini sangat relevan dalam menjaga semangat literasi, terutama ketika ada anggota yang mulai merasa jenuh atau kehilangan arah. Dengan mengamalkan nilai ini, saya belajar bahwa literasi bukan hanya tentang tulisan, tetapi juga tentang hubungan antarmanusia yang saling menguatkan.

Tantangan terbesar adalah menjaga semangat anggota. Ada kalanya beberapa yang merasakan kejenuhan, atau merasa kurang aktif karena kesibukan pribadi. Saya percaya, tugas seorang sekretaris bukan hanya mencatat dan mengelola dokumen, melainkan menjaga komunikasi tetap hidup, memastikan bahwa setiap anggota merasa dihargai, dan terus mengingatkan mereka pada tujuan bersama, "berbakti, berkarya, berarti", untuk menjaga api literasi tetap menyala.

Refleksi ini juga menjadi pengingat bagi saya pribadi. Sebagai penulis, saya terus berusaha aktif menulis di blog dan mengikuti lomba, meskipun belum semuanya berhasil saya ikuti. Di tengah kesibukan mengelola grup dan kegiatan, menulis tetap menjadi ruang terapi sekaligus pengingat akan panggilan saya di dunia literasi.

FLP Gowa adalah rumah literasi yang unik. Kami tidak sempurna, tetapi kami terus berjalan. Dalam senyap grup WhatsApp, dalam rapat daring, atau dalam secangkir kopi saat gathering, ada semangat yang terus menyala. Literasi adalah tentang perjalanan panjang memberikan makna pada setiap kata, ruang, dan waktu yang kita miliki, dan saya merasa terhormat menjadi bagian dari perjalanan ini. Meski layar WhatsApp kecil, visi yang kami bawa jauh lebih besar: menjaga api literasi tetap hidup, di mana pun kami berada.

Sebagai penutup, saya menyadari bahwa api literasi tidak hanya menyala lewat karya besar atau program megah. Ia juga hidup dalam hal-hal kecil yang sering kali luput dari perhatian. Sapaan sederhana di grup, dukungan untuk karya anggota, atau sekadar membagikan artikel inspiratif adalah bentuk nyata dari menjaga api itu tetap berkobar. Literasi, bagi saya, adalah tentang memberikan makna pada setiap kata, ruang, dan waktu yang kita miliki.

Ke depan, saya berharap FLP Cabang Gowa tidak hanya tetap solid, tetapi juga terus tumbuh. Dengan kerja sama yang lebih erat, inovasi dalam program, serta keterbukaan untuk belajar dari pengalaman, saya percaya bahwa visi besar FLP akan tercapai. Dan di balik layar WhatsApp, saya akan terus menjaga agar roda organisasi FLP Cabang Gowa tetap berputar, hingga akhirnya literasi benar-benar menjadi bagian dari denyut kehidupan kita sehari-hari. Mari terus menjaga api literasi tetap menyala, bersama-sama.

Komentar